Legenda Cerita Rakyat Malin Kundang Menjadi Sebuah Batu

Saturday, November 15th 2014. | Kumpulan Cerita

Legenda Cerita Rakyat Malin Kundang Menjadi Sebuah Batu – Untuk cerita rakyat yang satu ini tentunya sahabat sudah pada mengetahuinya bukan, cerita ini memang cerita yang sudah sangat begitu popuer hingga dari dulu. Cerita yang mengajarkan kita untuk sellau berbakti kepada kedua orang tua, berbuat baik dan tentunya tidak mendurhakainya.

Cerita ini tak hanya jadi cerita-cerita biasa saja, bahkan sering diangkat menjadi judul sinetron, buku cerita di dalam buku dan media lainnya. cerita ini diangkat dari Sumatera Barat tepatnya berada di Pantai Air Manis, di Padang Selatan. Jika sahabat pergi ke pantai tersebut, disana sahabat akan menyaksikan batu yang berwujud seperti orang yang sedang bersujud. Dan wujud itulah yang masyarakat yakini mengenai Malin Kundang. Kalau begitu yuk kita langsung simak saja ceritanya di bawah ini, semoga bagi sahabat apalagi anak-anak dapat bermanfaat.

Malin Kundang

Cerita Malin Kundang

Di sebuah desa terpencil hiduplah sebuah keluarga yang miskin, terdiri dari seorang ibu dan seorang anak laki-laki bernama malin kundang. Sang ibupun harus lebih bekerja keras untuk menghidupi anaknya karena ayahnya pergi meninggalkan mereka.

Malin Kundang ini seorang anak yang pintar namun ia sedikit nakal. Setiap hari ia membantu ibunnya mencari kayu bakar, namun setelahnya ia dewasa, ia merasa kasihan pada ibunya lalu Malin Kundangpun berkeinginan untuk pergi mencari pekerjaan ke kota Besar.

Karena keinginannya itu, malin Kundangpun meminta ijin pada ibunya:

“Bu, saya ingin pergi dan bekerja ke Kota supaya bisa membantu ibu”. Pintanya

“Ibu hanya punya kamu disini, jangan tinggalkan ibu sendiri, nak.” Ibunya menolak

“saya kasihan melihat ibu terus bekerja keras mengurusku, izinkanlah saya pergi bu.” Pintanya lagi

“Baiklah, tapi nak, kamu harus ingat sama ibu ya, jangan pernah melupakan ibu dan desa ini ketika kamu suatu nanti sudah sukses di sana.” Pinta ibu sambil berlinang air matanya.

Tak sampai berhari-hari setelah perijinannya tersebut kepada ibunya, pagi harinyapun ia langsung berangkat ke Kota dengan menggunakan kapal. Setelah beberapa tahun kemudian, iapun meraih sukses di perantauannya dengan menjadi orang kaya dan memiliki kapal dagang yang banyak. Tak hanya itu, iapun sudah memiliki seorang istri yang cantik yang merupakan anak dari pemilik kapal-kapal tersebut.

Berita tentang Malin Kundang yang sudah meraih sukses disana sudah diketahui oleh ibunya, dan sang ibupun begitu senang ketika mendengarnya. Setiap hari ia selalu menunggu kepulangan anaknya tersebut dan mengangkat derajat ibunya, namun anak satu-satunya itu tak kunjung datang juga.

Namun suatu hari istri yang sangat dicintainya itu bertanya mengenai ibu mertuanya dan ingin bertemu dengannya, malinpun tak mau mengecewakan istrinya itu dan akhirnya Malinpun menyiapkan perjalanan menuju ke desa tempat kelahirannya itu dengan kapal pribadinya yang sangat bagus. Ketika mereka sampai di desanya tersebut, terdengar oleh ibunya bahwa anak kesayangannya itu telah sampai di desa dan ibunyapun sangat bergembira bahkan pergi ke pantai untuk melihat anaknya itu.

Ketika ibunya sampai di pantai, ibunyapun langsung bertanya:

“Apakah ini anakku, Malin? Ini Ibu nak, apa kamu masih ingat?” Tanya ibu

“Mengapa kau pergi begitu lama anakku, dan tanpa ada mengirim kabar?” ibunya bertanya lagi sambil memeluk Malin.

Istrinya sangat terkejut ketika melihat wanita tua, renta, bau, dan dekil itu memeluk suaminya dan berkata:

“Jadi wanita tua yang dekil dan bau ini ibumu, Malin?”

KarenaMalin malu, dengan segera ia melepaskan pelukan ibunya itu sambil berkata:

“Dasar wanita miskin, saya tidak kenal kamu” Ucapnya membentak

Mendengar perkataan anaknya tersebut, iapun menjadi sedih dan juga marah karena ia tak menduga kalau anaknya menjadi durhaka. Ketika itu sang ibupun murka dan meminta doa kepada sang maha kuasa.

“Tuhan, jika ia benar anakku, aku mohon, berilah ia azab dan rubahlah ia menjadi batu.”

Tak lama setelahnya ibu Malin berdoa, petir dan anginpun menghantam kapal Malin kundang dan menghancurkannya. Tak lama setelah itu malinpun menjadi kaku lalu jadilah ia sebuah batu yang menyatu dengan karang.

Amanat: Orang yang harus kita taati setelah tuhan adalah kedua orang tua kita, maka janganlah sesekali sahabat berbuat hal yang dapat membuat mereka murka, dan juga harus ingat bahwa,kebaikan tuhan tergantung pada kebaikan kedua orang tua, dan murka Tuhan tergantung murkanya kedua orang tua, maka jagalah hati mereka jangan sampai kena goresan sakit dan melukainya.

Semoga cerita ini dapat menjadikan kita seorang anak yang benar-benar taat dan patuh kepada kedua orang tua. Jika ada kesalhan mohon masukannya.

Related For Legenda Cerita Rakyat Malin Kundang Menjadi Sebuah Batu