Kisah Hikmah Seorang Muallaf, Ibu HJ. Irene Handono

Wednesday, November 5th 2014. | Kumpulan Cerita

Kisah Hikmah Seorang Muallaf, Ibu HJ. Irene Handono – Ibu Irene ini merupakan salah satu Muallaf yang sangat berpengaruh kehidupannya sekarang ini di masyarakat dan ia bukan satu-satunya mualaf yang bisa disebutkan sukses. Sebelum ia menjadi Muallafpun beliau sudah aktif di berbagai kegiatan apalagi sekarang setelahnya ia berhijrah ke Agama Islam. Bagi sahabat yang penasaran degan kisah perjalanannya Ibu Irene Handoko silahkan simak saja informasinya di bawah ini.

Ibu Irene ini memang dibesarkan di keluarga yang begitu religious. Mereka pemeluk Khatolik yang begitu taat sekali. Beliau sudah di baptis sejak ia masih bayi juga sering mengikuti privat secara kursus mengenai agamanya. Dan setelahnya ia tumbuh menjadi remaja, ia aktif dalm organisasi gereja.

Ibu Haji Irene HandonoKetika masih kecil ia sudah sangat termotivasi dan ingin untuk masuk biara. Dan perlu kita ketahui hidup membiara menurut orang Khatolik merupakan hal yang begitu mulya, karena dengan menjadi biara bisa mengabdi secara total di seluruh kehidupannya hanya kepada Tuhan. Dan semakin ia tumbuh dewasa, semakin besar juga keinginannya untuk menjadi biara wati sehingga menjadi tujuan dalam hidupnya menjadi seorang biarawati.

Ibu Irene ini terlahir di keluarga yang kaya raya, jika harus diukur dengan materi rumahnyapun berdiri dalam luasnya 1000 meter persegi. Mungkin sahabat bisa membayangkan betapa besarnya rumah tersebut. Keluarganya berasal dari etnis Tionghoa yang ayahnya seorang pengusaha di Surabaya yang sangat terkenal maka tak heran jika ayahnya tersebut sudah lama menjadi donator gereja terbesar di Indonesia.

Ibu Irene Handono ini merupakan anak satu-satunya perempuan di keluarganya, ia anak kelima dari lima bersaudara. Ia amat bersyukur karena banyak sekali diberikan anugerah juga kelebihan. Selain materi ia pun memiliki kecerdasan yang mumpuni dengan hasil akademiknya yang selalu memuaskan ia jjuga sering terpilih menjadi ketua termuda di organisasi gereja.

Di masa remajanya ia banyak di sukai oleh teman-temannya bahkan banyak sekali yang mencintai juga memfavoritkannya bagi sahabat-sahabatnya. Dan setelahnya ia menuntaskan sekolah SMU nya, ia memutuskan untuk mengikuti panggilan hatinya tersebut untuk menajdi seoran biarawati.

Awalnya kedua orang tua terkejut ketika mendengar Ibu Iree ini akan masuk ke biarawati namun karena kedua orang tuanya itu orang yang sangat taat sebagai pemeluk Katolik akhirnya mereka mengijinkan anak gadis satu-satunya tersebut untuk menjadi biarawati dan harus berpisah dengannya, begitupun dengan kakak-kakaknya sangat bangga kepada adiknya yang ingin masuk biarawati.

Ketia ia masuk biarawati, ia merasakan kemudahan di setiap langkahnya, karena dari sekian biarawati hanya ada dua orang yang diberikan tugas ganda untuk kuliah di biara juga mengikuti kuliah di institute Filsafat Teologi, seperti seminari yang merupakan pendidikan akhir pastur dan salah satu dari kedua orang tersebut yaitu Ibu Irene.

Di usianya yang masih belasan tahun (19 tahun), ia harus menekuni dua pendidikan sekaligus, yakni pendidikan di seminari dengan mengambil Jurusan Islamologi dan juga pendidikan di biara.

Ketika masuk perkuliah inilah ia pertama kalinya mengenal Islam. Yang ketika ia masuk di awal perkuliahan salah satu dosennya memberikan pengantar tentang agamanya yang terbaik (Katolik) dan menyebutkan bahwa Islam itu tidak baik. Tak hanya menyebutkan kalau Islam itu tidak baik malah dosen tersebut juga menyebutkan orang Islam itu bodoh, kumuh, melarat dan masih banyak kata-kata yang disampaikannya tentang Islam.

Jadi tidak terbukti kalau Islam itu symbol keburukan. Aku jadi tertarik mempelajari masalah ini. Solusinya, aku minta ijin kepada pastur untuk mempelajari Islam dari sumbernya sendiri, yaitu al-Qur’an dan Hadits. Usulan itu diterima, tapi dengan catatan, aku harus mencari kelemahan Islam.

Ketika ia memegang Al-Quran pertama kalinya, ia bingung mana yang bagian bawah dan mana yang bagian atas, juga mana yang bagian depan juga mana yang bagian belakang. Karena ia bingung dengan bentuk hurufnya, iapun mengawali membaca Al-Quran tersebut dari terjemahannya.

Surat pertama kali yang ia lihat yaitu surat Al-Ikhlas, setelahnya dibacakan terjemahannya ia memuji isi surat tersebut dan membenarkan kalau Allah itu satu, Allah itu Ahad.

Kemudian ia kuliah lagi bersama salah satu dosen yang mengatakan kalau Tuhan itu satu tapi dalam kepribadiannya tiga, yaitu ada Tuhan Bapak, Tuhan Putra dan Tuhan Roh Kudus. Dan ketiga tuhan ini disebutnya dengan tritunggal atau trinitas. Dan setelahnya ia mengikuti perkuliahan tersebut, malamnya ia mengkaji lagi surat Al-Ikhlas tersebut dan ia memutuskan bahwa memang Allah itu ahad.

Setelahnya ia membaca surat Al-Ikhlas tersebut, hari demi hari ia semakin penasaran dengan hakekat Tuhan, hari demi hari itupun ia pakai untuk terus membaca surat Al-Ikhlas tersebut dan semakin sering juga ia bertanya kepada Pastur yang mengajarnya, semakin sering juga ia diperlakukan tidak baik. Banyak bentuk protes ia yang dicurahkan pada Pasturnya karena memang ia menginginkan kejelasan mengenai hakikat tuhannya.

Karena memang ia sedang begitu bingung dengan adanya tuhan yang ahad ataupun yang trinitas, akhirnya iapun bertanya mengenai sejarah gereja. Menurut singkatnya – pada tahun 325 Masehi Yesus dilantik mennjadi Tuhan oleh Kaisar Constantien Kaisar Romawi, pelantikannya terjadi dikonferensi di Nizea, dan disanalah Yesus pertaa kalinya di sebut Tuhan.

Namun ketika itu ia menyuruh kepada seluruh umat Kristen di seluruh dunia untuk mencari satu ayat saja di dalam injil, baik itu Lukas, Markus, Yohanes maupun Matius, mana ada Yesus yang menyebutkan “Aku Tuhanmu”?. Tidak pernah ada.

Teman-teman yang sedang di dalam perkuliahan pun menganggap Ibu Irene itu biarawati yang begitu kritis. Setelahnya ia mempelajari Al-Quran, ia mengaku kalau tidak menemukan kelemahan dalam al-quran. Bahkan tidak ada juga manusia yang mampu.

Mengkaji Al-Quranpun terus di teruskan olehnya sehingga ia menyimpulkan bahwa agama yang memang benar-benar hak itu hanyalah agama Islam. Subhanallah.

Setelahnya itu Ibu Irene memutuskan dengan segala pertimbangan juga perenungan untuk keluar dari biara dengan keyakinan bahwa islam itu meurpakan agama Allah, namun setelahnya keluar dari biara tidak hari itu juga ia mengucapkan syahadat namun masih membutuhkan keyakinan untuk hijrah dari agamanya.

Setelah enam tahun ia keluar dari biara, barulah ia semakin yakin yang akhirnya ia masuk Islam dengan dua kalimah syahadat. Allahu Akhbar.

Selama enam tahun tersebut ia terus mencari, banyak persoalan yang menimpanya dari mulai suka duka, sedih dan senang. Ia merasa sedih karena memang harus meninggalkan keluarganya apalagi melihat keluarganya yang sangat sedih juga bingung dengan apa langkah yang akan di ambil anak bungsunya ini.

Setelahnya ia keluar dari biara, ia meneruskan kuliahnya ke Universitas Atmaja, kemudian ia menikah dengan orang Katholik, ia berharap dengan menikah pencarian mengenai agamnya sudah selesai, namun ternyata diskusi itupun semakin melebar dan juga memanjang. Ketiak ia bercerita mengenai islam, suaminya itu selalu menyudutkan padahal ia tak suka disudutkan apalagi tanpa adanya alasan.

Ia berkesimpulan kalau pernikahannya ini tidak bisa dilanjutkan dan tak kan bisa bertahan lama. Kemudian ia belajar islam melalui ustadz, karena memang dulu-dulu belajar islam itu hanya melalui buku saja. Akhirnya iapun di pertemukan dengan Kyai Haji Misbah (alm) yang pada waktu itu menjadi ketua MUI Jawa Timur.

Setelahnya ia berkatan ingin masuk islam, ustadznya selalu berkata “masuk islam itu gampang, tapi sudah siap dengan konsekuensinya?”. Pertanyaan itu diulang hingga 3 kali dan di jawabpun sebanyak 3 kali.

Setelahnya ia belajar dan semakin yakin, akhirnya diumurnya yang 26 tahun, waktu itu tepatnya tahun 1983 ia resmi memeluk islam. Dan pernikahannyapun yang sudah dibangun selama lima tahun akhirnya harus diputuskan dengan perceraian, karena memang suaminya tetap pada pendiriannya. Daripernikahannyatersebut ia memiliki 3 orang anak, dua laki-laki dan satu anak perempuan.

Ia melaksanakan shalat satu hari sebelum dilaksanakannya bulan Ramadhan. Namun lama-kelamaan agama barunya itu diketahui oleh keluarganya sehingga terjadi keretakan dan iapun pergi meninggalkan rumah dengan mengontrak salah satu kontrakan di Surabaya, namun meskipun begitu ibunya selalu menjenguk karena memang ia merupakan anak perempuan satu-satunya dikeluarga. Enma tahun kemudian ibunya meninggal dan hingga saat ini tidak ada kontak lagi antara ia dengan kakak-kakaknya maupun ayahnya.

Secara singkatnya, ia menjalani kehidupan sendiri dengan selalu mengkaji Islam sehingga pada akhirnya ia diundang untuk berhaji, setelahnya menunaikan haji, ia semakin terbuka mempelajari tauhid sehingga akhirnya ia bisa berdakwah dan semakin banyak yang mengundangnya berdakwah. Kemudian iapun dilamar oleh seorang ulama, yaitu Masruchin Yusufi, ia merupakan duda yang memiliki lima orang anak. Bersama suaminya itu ia berdakwah bersama-sama hingga ke pelosok desa.

Dan iapun mengatakan bahwa “Matiku hanya karena Allah”. Subhanallah.

Itulah sebahagian kecil kisah dari salah seorang muallaf wanita asal indonesia yang bernama Ibu Irene Handono atau yang kita kenal juga dengan nama Irena Handono. Semoga Iman dan Islam beliau diteguhkan oleh Alloh SWT dan semoga dosa-dosa beliau sebelum masuk Islam Alloh ampuni dan digantikan dengan Rahmat serta Ridlonya. Amin ya Allah ya Rabbal A’lamin.

Baca juga kisah dan cerita inspiratif lainnya ya teman-teman 🙂

Related For Kisah Hikmah Seorang Muallaf, Ibu HJ. Irene Handono