Cerita Si Kancil, Pak Tani dan Hutan Yang Gundul

Sunday, August 28th 2016. | Kumpulan Cerita

Cerita Si Kancil, Pak Tani dan gunung yang Gundul

Cerita Si Kancil, Pak Tani dan Hutan Yang Gundul

Suatu hari, Si kancil berada di tepi sungai sedang duduk dan lemas. Ia kelaparan karena dihutan sudah tak ada lagi makanan karena pepohonan habis ditebang manusia, hingga semuanya gersang. Para hewan di curi dan di tangkap karena suka mencuri dari perkebunan penduduk. Si Kancil makan seadanya saja dihutan, dedaunan yang menguning dan rumput-rumput kering yang masih bisa ditemukannya. Tak adaa lagi buah-buahan yang bisa ia dapatkan.

Si Kancilpun bangun dan menyusuri sungai dengan perlahan karena kakinya lemah dan hampir sering terjatuh. Ia berharap menemukan tempat yang penuh dengan pepohonan. Setelah berjalan seharian, ia akhirnya mencium sesuatu yang dikenalinya. Aroma itu ternyata buah timun yang begitu segar hingga air liurnya menetes karena rasa laparnya sangat terasa.

“Timun-timun itu pasti lezat dan dapat mengobati rasa laparku ini”. Ucap si kancil.

Si kancilpun terus berjalan untuk mencari dan menemukan sumber aroma itu. Dan ternyata aroma itu berasal dari kebunnya pak Tani. Timun-timun itu menggantung di pohonnya yang merambat ke tonggak bambu yang begitu menggoda seleranya si Kancil.

Si Kancilpun dengan sangat hati-hati masuk kedalam kebun, namun ketika ia mau masuk ia tiba-tiba ingat pesan ibunya.

“Jangan pernah mengambil yang bukan milik kita, nak! Karena itu sama saja dengan mencuri dan mencuri itu perbuatan yang tidak baik”.

Iapun bimbang karena nasehat ibunya itu dan jika ibunya masih hidup ia pasti dimarahi karena ia mencuri.

“Tapi aku sangat lapar”. Ucap si kancil pada dirinya sendiri.

“Meskipun kau sedang sangat kelaparan, tidak boleh kalau kau harus mencuri, Nak!”. Nasehat ibunya kembali terngiang lagi.

“Aku akan tunggu saja pak tani datang ke kebun kalau begitu, mungkin kalau aku meminta ijin pak tani akan memberikannya padaku”. Ucap si Kancil

Si Kancilpun akhirnya menunggu pak tani sampai esok pagi meskipun sangat kelaparan namun ia memaksakan untuk memejamkan mata hingga ia ketiduran di kebu.

***

Pagi harinya pak Tanipun bersiap untuk berangkat ke kebun. Belakangan ini kebunnya sering dirusak oleh binatang-binatang yang mencuri buah dan sayur miliknya. Ia tak mau rugi hingga ia selalu memasang perangkap dan setiap pagi ada saja hewan yang terjebak dalam perangkapnya.

Pak tanipun berangkat ke kebun sambil membawa keranjang. Karena timun dikebun sudah cukup untuk dipanen.

“Semoga saja para biantang itu tidak lagi mencuri timunku”. Ucap pak Tani.

Ketika pak Tani sampai di kebun, ia sangat terkejut karena melihat si Kancil tergeletak dipinggir kebun. Dan iapun mendekatinya.

“Si Kancil ini tidak kena perangkap, namun kenapa ia tergeletak disini?”. Ucap pak Tani.

“Mungkinkah si Kancil mati?”. Ucapnya lagi.

Dengan pelan pak Tani menepuk punggungnya dan tepukan itu membuat si kancil terbangun.

“Oh, apakah ini sudah pagi?”. Ucap si kancil sambil menguap dan menyadari kalau pak Tani ada di depannya.

“Apakah pak Tani pemilik kebun ini?”. Tanya si Kancil.

Pak tanipun hanya mengangguk karena kebingungan.

“Maafkan aku pak Tani, aku tidak bermaksud untuk mencuri timunmu. Aku hanya seekor kancil yang kelaparan karena hutanku sudha gundul dan tak punya makanan apapun”. Ucap si Kancil.

“Sepertinya ia Kancil yang jujur”. Pak Tanipun berkata dalam hati sambil menatap si Kancil.

“Bolehkah aku meminta dua buah timun di kebunmu?”. Si Kancilpun memohon.

Pak tani yang baik itupun memperbolehkan si Kancil.

“Ambillah sebanyak yang kamu mau”. Ucap Pak Tani.

“Terima Kasih”. Ucap Si Kancil.

Si Kancilpun tak mau serakah dan hanya memetik beberapa buah timun saja meskipun pak Tani mengijinkan mengambil sebanyak-banyaknya.

“Kkurasa ini cukup, terima kasih pak Tani”. Ucap si Kancil.

“kau begitu jujur dan baik hati, tak seperti teman-temanmu yang suka merusak jebun sayurku disana”. Ucap Pak tani.

“Maafkan teman-temanku, Pak Tani. Mereka terpaksa melakukan itu karena di hutan sudah tak ada apa-apa lag”. Ucap Si Kancil.

Pak Tanipun mengangguk mendengar cerita si Kancil.

“Aku juga inta maaf. Karena ulah kami membuat hewan-hewan kelaparan. Aku janji akan menanam pepohonan dihutan lagi dan mengajak teman-teman yang lain. Sebagai permohonan maafku pada kalian, kau boleh membawa temanmu untuk panen timunku dan memakan sepuasnya dari kebunku”. Ucap pak Tani.

“Terima kasih, Pak tani”. Sambil tersenyum si Kancil memeluk pak Tani.

Related For Cerita Si Kancil, Pak Tani dan Hutan Yang Gundul