Cerita Rakyat Tentang Sampuraga Si Anak Durhaka

Monday, November 17th 2014. | Kumpulan Cerita

Cerita tentang Sampuraga Si Anak Durhaka

Cerita Rakyat Tentang Sampuraga Si Anak Durhaka

Pada zaman dulu, hiduplah seorang janda tua dan anak laki-lakinya di sebuah kampung yang sepi. Anak laki-laki itu bernama Sampuraga. Hidup mereka bisa dibilang miskin, namun mereka tetap saling menyayangi dan bahagia. Untuk bisa menghidupi kehidupannya sehari-hari, mereka mencari kayu bakar untuk dijual dan juga menjadi buruh upah di lading orang lain. Keduanya sangat jujur dan rajin dalam bekerja sehingga banyak yang suka kepada mereka.

Suatu hari, di bawah pohon rindang Sampuraga dan juga majikannya beristirahat sembari menikmati makan siang dan berbincang-bincang setelahnya mereka bekerja dari pagi.

Sampuraga, usiamu masih muda. Kalau boleh aku sarankan, kamu sebaiknya pergi ke negeri yang penduduknya hidup makmur dan sangat subur”. Ucap majikannya

“yang Tuan maksud itu negeri mana?” Sampuraga penasaran

“Namanya negeri Mandailing, rata-rata penduduk disana memiliki lading dan juga saha. Karena tanah disana memiliki kandungan emas, maka dengan mudah mereka mendapatkan uang hasil dari mendulang emas di sungai”. Majikan menjelaskan

“Sebenarnya saya sudah lama ingin merantau untuk mnecari pekerjaan yang baik dan bisa membahagiakan ibu saya”. Ucap Sampuraga sungguh-sungguh

“Begitu mulia cita-citamu, Sampuraga! Memang kamu anak yang berbakti”. Majikannnya memuji

Setelahnya ia berbincang seperti itu dengan majikannya, Sampuragapun pulang dan mengutarakan keinginannya kepada sang ibu.

“Bu, aku ingin merantau untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Aku ingin mengubah nasib kita yang terus-terusan menderita”.

“Mau kemanakah engkau akan pergi anakku?”. Ibunya bertanya

“Aku akan pergi ke Negeri Mandailing bu, majikanku tadi bilang kalau negeri disana penduduknya hidup makmur dan sejahtera karena tanahnya yang begitu subur” jelas Sampuraga

“Pergilah anakku! Meskipun ibu sangat khawatir tidak bisa bertemu lagidenganmu karena usia ibu yang semakin tua, namun tak ada alasan untuk ibu melarangmu pergi. Maafkan ibu karena belum bisa membahagiakanmu selama ini, anakku”.

“Terima kasih Ibu! Aku berjanji jika sudah berhasil nanti akan kemabli menemui ibu, doakan anakmu bu!”. Sampuraga meminta restu.

“Ya, Anakku! Siapkan bekal yang akan kamu bawa!”.

Esok harinya, Sampuraga siap untuk berangkat dan berpamitan kepada ibunya.

“Bu, aku berangkat! Ibu harus jaga kesehatan, dan jangan terlalu bekerja terlalu keras!”.

“Ya anakku, berhati-hatilah kamu dijalan, cepat kembali jika kau sudah berhasil disana”.

Sampuraga pun berpamitan sambil mencium tangan ibunya dengan hati yang sangat haru. Air matapun keluar dari kelopak mata sang ibu begitupun dengan Sampuraga. Sampuraga merangkul ibunya, begitupun ibu membalas dengan pelukan erat dan berkata:

“Sudahlah anakku! Jika tuhan menghendaki pasti kita akan bertemu kembali”. Ucap sang ibu.

Sampuraga pun pergi meninggalkan ibunya. Ia pergi di malam hari, melewati perkampungan dan juga hutan belantara.

Suatu hari, ia sampai di disa yang bernama Sirambas. Melihat negeri itu ia sanagt terpesona. Penduduknya yang begitu ramah-tamah, masing-masing mereka memiliki rumah yang begitu indah yang atapnya ijuk. Dan ditengah-tengah keramaian kota itu berdiri sebuah istana yang begitu mewah. Di setiap sudut kota terdapat candi yang terbuat dari batu. Semua yang ia lihat menandakan kalau penduduk disana itu hidup dengan sejahtera.

Sampuraga pun mencoba melamar pekerjaan disana, dan lamaran pertamanyapun langsung di terima oleh Raja Sirambas. Sang Raja sangat percaya kepadanya, karena ia anak yang begitu jujur juga rajin bekerja. Sang Raja sudah beberapa kali menguji kejujurannya ternyata memang ia begitu jujur. Oleh karena itu sang Raja ingin mengangkatnya menjadi Raja dengan menikahkannya dengan anak perempuannya yang terkenal sangat cantik di wilayah Sirambas karena memang sang Raja tidak meiliki seorang anak laki-laki.

“Sampuraga, engkau adalah anak yang begitu baik juga rajin. Maukah engkau aku jadikan menantuku?”. Sang Raja bertanya.

“Dengan sennag hati, Tuan! Hamba bersedia menikah dengan puteri Tuan”. Jawabnya

Pernikahanpun dipersiapkan sebulan sebelum acara secara besar-besaran, puluhan ekor kambing juga kerbau disediakan untuk disembelih. Gordang Sambilanpun sudah di persiapkan untuk menghidur para undangan. Pernikahannya itu sampai beritanya hingga ke pelosok desa.

Ibu Sampuraga meneruskan hidupnya dengan mencari kayu bakar, untuk bisa menghidupi dirinya, tapi kerinduannya kepada Sampuraga yang semakin hari semakin tak tertahankan membuatnya sering sakit-sakitan.

Suatu hari Ibunya memutuskan untuk menyusul anaknya ke Mandailing meskipun tak tahu dimana anaknya itu tinggal karena memang belum pernah memberikan kabar apalagi mengenai rencana pernikahannya. Setelah ia mempersiapkan bekal berangkatlah ke negeri Mandailing dengan berjalan kaki. Lelah dan rasa laparpun tidak di perdulikannya karena ingin segera bertemu dengan anaknya itu.

Sutau hari, iapun sampai di negeri Sirambas. Disana ia melihat keramaian dan juga terdengan suara Gordang Sambilan yang bertalu-talu. Sang ibupun mendekat dengan langkah terseok-seok. Ia terkejut ketika melihat anaknya bersanding bersama seorang putri yang begitu cantik. Tiba-tiba sang ibupun mendatangi Bagas Godang di tempat Sampuraga itu bersanding sambil berteriak:

“Sampuragaaaa.. ini ibu naaak..”.

Sampuraga terkejut mendengar namanya itu.

“Ah tidak mungkin itu suara ibu…” sambil matanya mencari-cari sumber suara.

Setelah salah satu pengawalnya memberitahu kalau di Bagas Gadang ada seorang perempuan tua, iapun keluar. Dengan tiba-tiba sang ibu lari mendekati Sampuraga dan berkata:

“anakku… Sampuraga! Ini Ibu nak..!“. sang ibu mengulurkan tangan hendak memeluk anaknya itu.

Sampuraga pun serasa di sambar petir ketika ia melihat ibunya itu, ia malu kepada istrinya dan juga kepada para undangan. Wajahnyapun berubah menjadi merah membara karena ada nenek tua yang tiba-tiba mengakui kalau ia anaknya. Perasaannya begitu berkecamuk, ia takut kalau sang Raja tahu kalau ia adalah ibunya, karena ia sebelumnya sudah bercerita kalau ayah dan ibunya sudah lama meningal dan ia hidup sebatang kara.

“Hei wanita tua Jelek! Enak saja kau mengaku kalau aku ini anakmu! Aku tidak punya ibu jelek seperti kamu! Pergi kau dari sini! Jangan kau kacaukan acaraku!”. Sampuraga membentaknya.

“sampuragaaaa…, ini Ibumu yang telah melahirkan dan membesarkanmu nak! Kenapa kau lupa sama ibu? Ibu sangat merindukanmu. Peluklah ibumu ini nak!”.

“Tidak! Kau bukan Ibuku! Dan Aku bukan anakmu! Ibuku sudah lama meninggal! Algojo! Usir perempuan tua jelek ini!”. perintah sampuraga.

Hati Sampuraga benar-benar sudah tertutup. Ia tega tidak mengakui ibunya sendiri dan mengusir serta mengingkarinya. Para undanganpun terharu namun tidak ada yang bisa berbuat apa-apa. Sang Ibupun di seret keluar oleh kedua pengawal smbil berderai air mata sang ibupun berdoa:

“Ya Tuhan, jika ia benar Sampuraga, berilah ia pelajaran ! karena ia telah mengingkari ibu kandungnya sendiri!”.

Seketika itu juga langit menjadi hitam diselimuti awan yang sangat tebal. Petir menyambar, hujan turun dengan sangat deras juga Guntur yang menggelegar. Para undanganpun berlarian menyelamatkan diri sementara sang Ibupun hilang entah kemana. Dalam waktu yang singkat tempat diadakannya pesta itu tenggelam tak seorangpun selamat termasuk Sampuraga juga istrinya.

Beberapa hari kemudian, tempat itu berubah menjadi kolam air yang begitu panas. Disekitarnya terdapat batu kapur yang bentuknya seperti kerbau dengan ukuran yang begitu besar. Selain itu juga ada unggukan tanah berpasir dan juga lumpur yang bentuknya seperti bahan makanan. Bentuk itu di percaya jelmaan dari upacara pernikahan Sampuraga yang terkena kutukan. Kemudian tempat itu diberikan nama “Kolam Sampuraga” oleh masyarakat setempat yang letaknya berada di desa Sirambas (dekat dari pusat kota Panyabungan).

Related For Cerita Rakyat Tentang Sampuraga Si Anak Durhaka